Asrama Tiga Tingkat Yang Baru Selesai Dibangun

Asrama yang nyaman sebagai pendukung kenyamanan mahasiswa dalam belajar dan memenuhi kebutuhan mereka dalam istirahat untuk kembali beraktifitas belajar mengajar.

Kompetensi Lulusan Yang Luar Biasa

Misi kami adalah : Membangun karakter yang bersumber pada prinsip-prinsip tauhid dan aqidah islamiyah menurut Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Perpustakaan Dengan Literatur Bahasa Arab Yang Lengkap

Seluruh buku rujukan yang ada berliteratur arab, sehingga sumber ilmu yang diambil pun langsung dari para ulama ahlussunnah wal jama'ah di berbagai bidang ilmu yang didalami.

Mengapa Anda Memilih Ma'had Aly As-Sunnah ?

Lulusan Ma'had 'Aly As-Sunnah memiliki kompetensi yang profesional dalam bidang Dakwah Islamiyah secara langsung turun ke lapangan sebagai penerus estafet perjuangan Rasulullah Shallahu 'alaihi wa sallam.

Kurikulum Pembelajaran Yang Sangat Bermanfaat Dan Dibutuhkan Masyarakat Modern

Kurikulum yang diajarkan mengacu kepada kompetensi yang diinginkan, jadi mahasiswa senantiasa fokus terhadap tujuan yang ingin dicapai dalam mendalami mata kuliahnya.

Sponsors

Sahabat yang akan selalu ku kenang

Assalamualaikum sahabat, uda lama ga nulis niy, maklum tiap hari les di sekolah sampai Jam 5:00 sore, membuat saya tidak mampu berkutik lagi dengan komputer. Tapi Kalau berbicara senang, ya senang donk, gimana ga senang coba, uda mau tamat SMA, tapi ada juga hal yang membuat saya sedih.

,
karena teman-teman yang sudah 3(tiga) tahun menemani saya dalam menuntut ilmu dalam canda tawa harus berpisah. Ditambah lagi guru-guru yang sangat saya cintai harus saya tinggalkan, yeah tambah sedih rasanya. Oya buat semua member kelas saya di SMAN2 Banda Aceh bisa dilihat di sini.

Mereka yang punya karakter masing-masing yang membuat saya selalu terinspirasi bua menulis puisi, dan sekarang saya sedang mempersiapkan sebuah puisi spesial buat mereka juga guru-guru yang saya kagumi(dan nantinya saya juga mempulikasikannya di sini, tentunya. karena dengan menulis seakan semua kesedihan yang saya alami dapat terhibur, hehehe (Romantis bangeet).

Coba tebak di foto di atas, saya kira-kira ada ga ya!, mank si agak dikit tersembunyi, lihat saja cowok yang paling tinggi diantara mereka. Hihi.

20 akan hari lagi saya lewati dengan do'a dan usaha untuk bisa melewati hari Ujian Nasional dengan sebaik-baiknya, semoga Allah memberikan yang terbaik buat saya, Doakan ya!

Istighfar yang Paling Utama


اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ

“Ya Allah, Engkau adalah Rabbku. Tiada Ilah yang haq melainkan Engkau. Engkau telah menciptakanku, aku adalah hamba-Mu, aku di atas perjanjian-Mu sesuai kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan amalanku. Aku mengakui nikmat-nikmat-Mu yang Engkau anugerahkan kepadaku, aku mengakui dosa-dosaku. Ampunilah aku karena sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosaku melainkan Engkau.”

“Barangsiapa membacanya di waktu siang dalam keadaan meyakini maknanya kemudian ia meninggal pada hari itu sebelum petang maka ia termasuk penduduk surga. Dan barangsiapa membacanya di waktu malam dalam keadaan meyakini maknanya kemudian ia meninggal sebelum masuk waktu subuh maka ia termasuk penduduk surga.” (HR. Al-Bukhari dari sahabat Syaddad ibnu Aus radhiyallahu ‘anhu)

Selamat bergembira di Hari Idul Fithri 1431 H

Ikhwan wa Akhwat rahimakumullah.

Assalamu’alikum warahmatullah wabarakaatuh.

Taqabbalallah minna wa minkum. Semoga Allah Ta’ala menerima amal-amal kita semua.



Mohon diampunkan atas semua kesalahan dan kekhilafan, yang terlihat atau tersembunyi, baik yang besar atau kecil, yang disadari atau tidak. Selamat bergembira di Hari Raya, Idul Fithri 1431 H. Bagi yang mudik atau shilaturahmi, mohon banyak bersabar. Kesabaran Anda hanya dalam hitungan jam, atau paling hari. Sementara di belakang Anda ada hari-hari kehidupan sepanjang tahun. Salam hormat dan kasih sayang untuk seluruh saudara Muslim.




Insya Allah, mulai Syawal blog “Tercinta Kita Ini” akan mengupdate tulisan secara normal. Mohon maaf atas semua kekurangan diri.
Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.

Abu Hafs Muhammad Rifyal dan Keluarg

Anak dan Zaman

“Wah sudah besar, ya anakmu?” apa yang kita rasakan ketika mendengar sapaan itu. Bangga? Rata-rata demikian. Setiap orang tua akan bangga ketika disapa demikian. Anakku sudah besar, pikir kita.

Tapi pernahkah kita tersentak mendengar sapaan itu, ?anakku sudah besar?’ Ya anakmu sudah besar. Sudah bertambah usianya. Dan apa saja yang telah engkau berikan kepada anakmu sepanjang usianya? Tahukah kau peristiwa apa saja yang telah terjadi sepanjang usianya? Ketika ia tertawa bahagia, mendapatkan momen yang membungakan perasaannya, hadirkah engkau di sana, turut tertawa bahagia bersamanya? Dan ketika ia meneteskan air mata duka karena kecewa dan hatinya luka, apakah engkau ada di sisinya? Engkau jadikan dadamu sebagai tumpahan air matanya? Dan engkau usap rambutnya yang halus agar ia tahu bahwa ia tak menangis sendirian, bahwa engkau ada bersamanya? Berempati merasakan duka dengannya. Seberapa sering itu kau lakukan?

Tahukah engkau dengan siapa saja ia bermain? Apa yang ia mainkan? Ataukah kau hanya berkutat dengan duniamu sendiri dan merasa anakmu akan baik-baik saja?

Dan tahu-tahu, anakmu sudah bertambah besar, bertambah usianya, dan kau tak akan bisa lagi mendampinginya.

Anak kita adalah anak zaman. Ia tumbuh seiring pertumbuhan zaman, dan usianya mengikuti zaman. Tapi kita, orang tua, semestinya menjadi guide baginya mengikuti zaman. Kita harus bisa menjadi rembulan yang bersinar terang bagi anak-anak kita di zaman yang serba gulita. Ketika anak-anak kita menatap ke angkasa mereka merasa akan baik-baik saja, karena ayah bundanya selalu bersama mereka. Kalaupun tak bisa senantiasa bersama, tapi cahayanya, ajarannya, ada dekat dengan mereka.

Tapi sadarkah bahwa orang tua sering ?merampas’ kebersamaan itu? Kesibukan kita mencari nafkah, aktualisasi diri kita, jadi alasan untuk membuang kesempatan emas kita untuk bersama mereka. Lalu kita percayakan anak-anak kita pada orang lain, pengasuh, playgroup, sekolah-sekolah unggulan, dan teman-teman mereka. Maaf, ini bukan saja pemikiran para eksekutif dan kaum karir, tapi tak sedikit pasangan suami-istri pegiat dakwah yang berpikiran demikian.

Sebagian orang tua malah percaya bahwa jika orang tua terus mendampingi anak maka akan melemahkan mental anak. Lebih baik jika diasuh oleh orang lain dan dibiarkan main sesuka mereka.

Masya Allah, lupakah mereka dengan pesan Nabi saw. “Al waladu lil firasy - anak adalah milik orang tua.” Dan bukankah orang tua yang menentukan keyahudian, kenasranian dan kemajusian anak-anak mereka?
Dan, tahu-tahu anakmu sudah besar. Kau sudah tak bisa lagi mendampingi mereka, mereka pun berpaling darimu. Apakah kau akan bangga atau malu? . . .

Sebuah eBook Menghadapi Ramadhan

Ramadhan sudah di depan mata, Berikut ini adalah eBook dari Kumpulan Fatwa Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i Seputar Puasa, Semoga Bermanfaat bagi sahabat sekalian yang ingin memperbaiki puasanya di tahun ini, agar lebih baik dari pada tahun-tahun sebelumnhya, Semoga . . .
Berikut kutipan daftar isi-nya ;

. Soal 1: Kapan waktu niat

· Soal 2: Apa yang harus dilakukan bila mengetahui waktu Ramadhan setelah terbit fajar

· Soal 3: Puasa sehari sebelum Ramadhan karena ragu

· Soal 4: Shoum wishol (puasa lagi setelah berbuka)

· Soal 5 : Yang harus dilakukan saat sahur ketika terdengar adzan Subuh

· Soal 6: Adakah keutamaan meninggal di bulan Ramadhan

· Soal 7: Yang harus dilakukan wanita hamil atau menyusui bila berbuka

· Soal 8: Datang haidh sebelum Maghrib

· Soal 9: Berbuka bagi wanita hamil atau melahirkan

· Soal 10: Berbuka karena keluar darah sebelum melahirkan

· Soal 11: Berbuka karena sakit bertahun-tahun

· Soal 12: Memakai siwak dan sikat gigi/pasta gigi

· Soal 13: Memakai wangi-wangian dan Cologne

· Soal 14: Memakai tetes mata, tetes telinga, dan tetes hidung

. Soal 15: Memakai suntikan

· Soal 16: Mencabut gigi

· Soal 17: Orang pingsan dan muntah

· Soal 18: Berenang di darat dan di laut

· Soal 19: Mencicipi masakan

· Soal 20: Menggunakan peralatan oksigen bagi seseorang yang menderita penyakit sesak nafas

· Soal 21: Kafarat atas suami yang berjima’

· Soal 22: Kafarat bagi istri yang berjima’

· Soal 23: Berjima’ dalam keadaan lupa

· Soal 24 : Berjima’ karena bodoh tentang hukum

· Soal 25: Mencumbui istri

· Soal 26: Ihtilam/ mimpi basah di siang hari

· Soal 27: Shalat dan shoum setelah ihtilam

· Soal 28: Berbuka di rumah bagi orang yang akan bepergian

· Soal 29: Waktu, tempat, dan raka’at sholat tarawih sesuai sunnah

· Soal ke-30 : Sholat di belakang imam tarawih 20 raka’at

· Soal ke-31: Bolehkah sholat tarawih di rumah

· Soal ke-32 : Wanita keluar sholat tarawih dengan wangi-wangian

· Soal ke-33 : Mematikan lampu pada waktu shalat supaya menambah kekhusyu’an

· Soal ke-34 : Tentang hadits, “Tidak ada i’tikaf kecuali di tiga masjid” ?

. Soal ke-35 : Lansia yang sudah pikun, bagaimana tentang shoumnya

· Soal ke-36 : Onani di bulan Ramadhan

· Soal ke-37 : Tahlil, takbir, tahmid setelah bacaan surat Adh-Dhuha imam tarawih

· Soal ke-38 : Shoum sunnah sebelum lunas mengqadha shoum wajib

· Soal ke-39 : Shoum bagi musafir yang berniat tinggal dalam waktu lama

· Soal ke-40 : Keluar mani setelah bercumbu

· Soal ke-41 : Zakat fitrah kepada pemerintah atau dalam bentuk uang

· Soal ke-42 : Wanita tidak shoum karena hamil dan melahirkan


Sebuah Renungan

(15) Cobaan berat sering menimpa orang-orang yang baru bertaubat. Hal itu untuk menguji, apakah taubatnya benar-benar murni atau hanya main-main saja? [[Catatan: Setiap orang yang baru bertaubat, biasanya akan diberi "uang muka", berupa kegembiraan-kegembiraan sebagai sambutan atas pertaubatan dia. Namun setelah itu, biasanya dia akan diberi cobaan tertentu yang benar-benar menguji keimanannya. Kalau dia sanggup melewati ujian itu dengan sabar, dia akan lolos dari ujian dan benar-benar mendapatkan taubat yang murni. Namun, kalau dia gagal melewati ujian dan merasa tidak sanggup hidup dalam taubat, dia akan jatuh kembali ke posisi semula. Bisa jadi saat itu syaitan akan menggodanya, sehingga menjadi lebih terjerumus dibandingkan sebelum saat bertaubat.


Caranya bagaimana menghadapi godaan syaitan itu? Pertama, sadarilah bahwa cobaan untuk menguji niat taubat kita, apakah serius atau main-main, itu memang ada. Kedua, kalau diukur-ukur, cobaan setelah taubat itu sebenarnya tidak berat. Hanya yang membuatnya tampak berat, karena kita menghadapi bisikan syaitan yang terus-menerus menggoda hati kita agar berhenti bertaubat. Kalau kita sering mengulang-ulang bacaan Surat Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Naas, insya Allah bisikan syaitan itu bisa ditatasi. Ketiga, kebebasan hidup setelah bertaubat sungguh jauh lebih nikmat daripada "kebebasan" kita bergelimang dalam dosa. Bagaimanapun Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan selalu mensucikan diri]].

(14) Orang yang baik itu kalau berbuat salah, cepat mendapat peringatan dari Allah, sehingga dirinya segera bertaubat. Sedangkan orang jahat itu kalau berbuat salah, malah ditambah-tambah rizkinya, agar dia semakin bergelimang dengan kesalahan.

[[Catatan: Banyak orang tertipu dengan rizki yang dia peroleh. Dia menganggap bahwa bertambah rizki di sisinya dianggap sebagai kebaikan murni. Padahal sebagian rizki itu justru merupakan fitnah bagi yang bersangkutan. Jika seseorang bertambah shalih dan bertambah rizkinya, bersyukurlah. Itu pertanda keberkahan. Namun harus hati-hati, seseorang yang semakin terjerumus dosa, namun rizkinya malah semakin bertambah. Rizki semacam itu merupakan fitnah yang kelak bisa menjadi bala' yang sangat menyakitkan. Banyak orang 'kaya mendadak' setelah masuk dunia politik. Padahal mereka tidak menunaikan amanah perjuangan politik Islam. Yang mungkar dibiarkan, yang Islami tidak dibela. Namun aneh, rizki mereka kok semakin 'kinclong' ya? Nah, itulah yang tidak mau dimengerti oleh orang-orang itu. Nanti, kalau sudah benar-benar piyek (hancur), barulah timbul kesadaran]].

(13) Betapa manis penampilan wanita seksi, tetapi betapa pahit keadaan jiwanya.

[[Catatan: Hampir dipastikan, tanpa terkecuali, wanita yang memperlihatkan keseksian diri di depan umum, mereka menarik mata laki-laki. Ini sudah fithrah. Tetapi dapat dipastikan juga bahwa wanita seperti itu memiliki jiwa-jiwa yang sakit, pahit, dan penuh masalah. Ibaratnya, "Indah dalam pandangan mata. Namun pedih dalam interaksi dengannya." Sungguh, tidak ada yang bisa membantah, bahwa pemilik penampilan seksi (selain di depan suaminya sendiri) adalah orang-orang yang penuh masalah. Hanya masalah itu tidak tampak di mata kita. Sedangkan mata kita cenderung fokus dengan penampilannya, tak mau menjangkau "yang di balik" penampilan]].

(12) Siapakah wanita yang tidak berkualitas? Mereka adalah wanita yang ketika tidak memiliki kelebihan untuk ditunjukkan; mereka lucuti tubuhnya untuk mencari perhatian.

[[Catatan: Itulah ciri termudah untuk memahami kualitas seorang wanita. Tidak peduli, siapapun dirinya, sepintar apapun dia, setinggi apapun sekolahnya, sefasih apapun bahasa Inggrisnya. Wanita yang tidak berkualitas, akan menjadikan keseksian dirinya sebagai "alat tawar" untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan tertentu. Hanya masalahnya, sebagian besar wanita jaman modern ini: tidak berkualitas!]].
(11) Semua wanita itu menarik hati, tetapi semua wanita SAMA.

[[Catatan: Ini adalah sebuah prinsip besar yang patut kita ketahui. Banyak manusia terjerumus karena godaan wanita. Kaum Yahudi sangat pandai. Mereka memahami bahwa fitrah laki-laki selalu terpikat dengan pesona wanita. Maka Yahudi menjadikan wanita sebagai komoditi untuk merusak moral manusia. Lihatlah iklan, film, sinetron, artis, seniman, kemasan produk, penjaga toko, staff kantor, teller bank, dll. selalu memakai wanita dengan penampilan cantik dan pakaian seksi. Yahudi ingin menempatkan wanita sebagai "ranjau-ranjau" untuk membongkar moral manusia, dimanapun mereka berada. Banyak laki-laki terpikat, atau terjerumus oleh "serbuan pesona wanita" ini. Padahal sejujurkan, kalau mau berpikir logis dan lebih berwawasan, kaum wanita itu SAMA. Pusat pesona, struktur, anatomi mereka sama belaka. Hanya "chasing"-nya yang berbeda. Tetapi secara umum mereka sama. Oleh karena itu, Islam memberi solusi berupa ISTERI. Boleh 2, 3, 4 isteri, atau cukup 1 saja. Solusi ini menakjubkan, sebab ia memberi esensi sebenarnya. Andai manusia ingin meraih kenikmatan dari 1000 wanita, hal itu sebenarnya SAMA saja dengan mendapat nikmat dari 1 wanita saja. Semua wanita sama, hanya "chasing" berbeda]].

(10) Seorang atheis berkata, “Tuhan itu tidak ada.” Maka saya katakan kepada orang itu sambil tersenyum, “Apa itu Tuhan? Dan apa itu ada?”

[[Catatan: Kalimat di atas bukan dari saya sendiri, tapi dari Sir Muhammad Iqbal, seorang penyair besar asal Pakistan. Beliau bekerja puluhan tahun dalam dunia filsafat, menghasilkan karya-karya syair yang dikagumi dunia internasional. Gelar "Sir" diberikan oleh Kerajaan Inggris sebagai penghargaan atas dedikasi beliau dalam Sastra Inggris. Maksud kalimat di atas, kurang lebih: Orang atheis tidak mempercayai Allah (Tuhan), lebih karena mereka terlalu berpikir materialis. Segala sesuatu diukur dengan materi. Padahal dalam kehidupan ini, baik materi maupun immateri keduanya eksis. Bahkan sisi immateri (keghaiban) jauh lebih eksis].

(09) Seseorang belum disebut cerdas, sebelum memahami bahwa Yahudi itu memang cerdas. Tetapi seseorang belum mencapai taraf kebenaran, sebelum menyadari bahwa orang Mukmin itu lebih cerdas dari Yahudi.
[[Catatan: Orang yang belum memahami bahwa Yahudi itu cerdas, karena dia belum banyak membaca, belum banyak menyelidiki, dan mengapresiasi karya-karya Yahudi dalam peradaban modern. Bahkan dia belum secara gentle mengakui kecerasan orang lain secara obyektif. Wajar jika dia belum disebut cerdas. Namun cerdas saja, belum cukup. Cerdas jika tidak menyampaikan kepada KEBENARAN, apalah gunanya? Maka seseorang belum disebut memahami kecerdasan hakiki, sebelum menyadari bahwa orang-orang beriman (Mukmin) lebih cerdas dari Yahudi. Orang beriman mengerti sepak-terjang Yahudi, misinya, konsep, skema, bahkan dampak yang akan terjadi dari sepak terjang itu. Dari mana orang-orang beriman memahami semua ini? Sebab mereka ditolong oleh Allah untuk memahami makar musuh-musuhnya, dan diberitahu formula-formula untuk mengatasinya. Hanya saja, formula-formula itu tidak selalu efektif bisa dijalankan, sebab hanya didukung oleh kekuatan sporadis. Andai ada konsep negara yang 100 % mendidikasikan dirinya untuk kemajuan Islam, tentu Ummat ini akan menyaksikan pertunjukan kecerdasan oleh kaum Mukminin. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah]].

(08) Seorang insan mengharapkan Allah bekerja dalam skenarionya, sehingga setiap impian-impiannya akan tercapai sempurna. Namun Allah Maha Tahu, Dia mengetahui seluruh sisi kehidupan insan itu. Apa yang diberikan-Nya adalah yang terbaik menurut ilmu-Nya, meskipun ia tampak kurang berharga di mata hamba-Nya. Andai Allah memberi secara sempurna apa saja yang diminta hamba-Nya, tanpa mempedulikan sisi-sisi kebaikan dari kehidupan hamba itu, maka bisa jadi ia akan menjadi manusia miskin, lemah, dan terabaikan. Insan itu tidak tahu, sedangkan Allah lebih tahu. Hadapilah kehidupanmu, sekalipun engkau selalu merasa “kurang”. Berlatihlah mensyukuri nikmat, sebab syukur itu akan menjadi pondasi kebahagiaanmu (bukan impian-impianmu yang tidak berkesudahan itu). (07) Di suatu jaman, Ummat ini merasakan saat-saat “paceklik” kemenangan. Begitu sulit merealisasikan kemenangan itu, sebab begitu banyak hambatan menghadang di jalan, dari berbagai arah. Namun di masa yang lain, kemenangan itu terasa “obralan”. Ia begitu deras menghampiri Ummat ini, seperti gelombang air laut yang tidak kenal henti berdatangan ke pantai. Suatu jaman Ummat dicoba dengan “paceklik”, di jaman berbeda dicoba dengan “panen anugrah”. Di jaman manapun kita berada, seorang Mukmin akan meyakini bahwa kemenangan itu semata dari Allah belaka, bukan dari kekuatan tangannya.

[[Catatan: Kekalahan Ummat kadang membuat kita frustasi, sedangkan kemenangan Ummat kadang membuat kita sombong. Sikap yang benar, kekalahan akan dihadapi dengan shabar; sedang kemenangan akan dihadapi dengan syukur. Shabar atau syukur akan sulit terealisasi jika kita tidak meyakini, wa maa an nashru ill min 'indillahil 'azizil hakim, dan pertolongan itu tidaklah datang melainkan dari sisi Allah yang Maha Aziz dan Maha Hakim. Teguhkan keyakinan ini di hatimu saudaramu, maka Allah akan menegakkan kemenangan dalam kehidupanmu. Insya Allah wa amin]].

(06) Suatu kaum yang malang, ialah mereka yang diperlihatkan oleh Allah sebab-sebab kekalahan dirinya, namun mereka tidak ditolong oleh Allah untuk mencapai kemenangan. Sedangkan kaum yang binasa, adalah mereka yang tidak ditunjukkan sebab-sebab kekalahannya, dan tidak pula ditolong untuk mencapai kemenangan. Adapun kaum yang berjaya, adalah mereka yang diberitahu sebab-sebab kekalahannya, lalu ditolong untuk merealisasikan sebab-sebab kemenangannya.
[[Catatan: Ummat Islam di Indonesia saat ini bisa dianggap termasuk kaum yang malang. Kita tahu dan sadar tentang sebab-sebab kekalahan kita, namun begitu sulitnya kita merealisasikan syarat-syarat mencapai kemenangan. Hidayah ilmu telah ditunjukkan sedemikian banyaknya, namun hidayah taufiq belum dikaruniakan kepada kita, sehingga dari masa ke masa, kita lebih banyak bersabar menanti datangnya pertolongan Allah itu. Bagaimanapun, innallah ma'as shabirin, Allah senantiasa bersama hamba-hamba-Nya yang sabar]].

(05) Musuh terbesar seorang manusia yang sedang berjuang meraih sukses, seringkali tidak berasal dari manapun, tetapi dari dirinya sendiri.
[[ Catatan: Setiap manusia memiliki hawa nafsu, nah hawa nafsu inilah yang kerap menghambat perjalanan menuju tangga sukses. Hawa nafsu bukan "nafsu" makan, minum, seks, dan lainnya. Hawa nafsu itu adalah dorongan dalam diri untuk selalu menghindari kebaikan dan mendekati keburukan. Hawa nafsu selalu ingin konfrontasi dengan kebaikan, dan mendukung penuh keburukan. Maka itu dalam Al Qur'an disebutkan sebuah ayat yang bunyinya, "Wa man khafa maqama Rabbihi wa nahan nafsa 'anil hawa, fa innal jannata hiyal ma'wa" (siapa yang takut dengan kedudukan Rabb-nya dan menahan hawa nafsunya, maka tempat kembalinya adalah syurga). Maka berjuanglah untuk menaklukkan dirimu sendiri, sebelum menaklukkan musuh-musuhmu! ]].

(04) Berbuat salah itu mudah, tetapi meminta maaf atas kesalahan tidaklah mudah. Meminta maaf itu biasa, tetapi berani memberi maaf itu luar biasa. Memberi maaf itu hebat, tetapi mengakui kesalahan diri lebih hebat. Mengakui kesalahan diri jelas istimewa, tetapi berani mengakui kebaikan orang lain, itu lebih istimewa. Mengakui kelebihan orang sungguh tidak mudah, tetapi lebih tidak mudah lagi mensyukuri kebaikan orang, bahkan mendoakan orang-orang yang baik itu. …jika kita belum mengerjakan salah satu dari kebaikan di atas, belum layak kita disebut sebagai manusia yang berakhlak mulia. Semoga Allah selalu menjadikan kita sebagai orang baik, sepanjang nafas di kandung badan. Amin.

(03) Tontonan seks liar hanyalah menyilaukan mata, menyiksa telinga, dan membuat birahi bergejolak. Namun disana tidak ada nilai berharga yang bisa diterima.

[[ Catatan: Kalau menyaksikan media-media pornografi, kita dibuat seperti sangat tergiur menyaksikan semua tontonan itu -meskipun banyak juga yang merasa sangat jijik-. Tetapi semua ketergiuran ini hanyalah tipuan mata belaka. Anda tidak akan pernah mendapat kenikmatan sejati dengan mengagumi tontonan itu. Kenikmatan sejati ada di diri isteri Anda yang didekati dengan cara yang baik, dan menempuh cara yang baik pula. Hanya itu potensi kesenangan seksual yang Allah sediakan bagi kita. Adapun tontonan seks liar, hanya menipu mata belaka. Bahkan para pelaku perbuatan mesum itu, mereka sama sekali tidak mendapatkan impian yang mereka inginkan. Tidak mungkin, Allah akan memberikan kepuasan kepada siapa yang menempuh cara salah! Tidak mungkin! Nah, disinilah banyak generasi muda tertipu oleh media-media pornografi ]].
(02) Kenikmatan seks bukanlah sensasi yang tergantung cara manusia dalam mendapatkannya. Tetapi ia adalah rizki yang besar-kecilnya, sepenuhnya ditentukan oleh Allah Ar Razzaq.

[[ Catatan: Kaum hedonis bersikap liar dalam mengelola potensi kenikmatan seks yang ada di tangan mereka. Mereka berpikir, "Semakin liar cara kita, semakin excited rasanya. Oh oho, enaknya berliar-liar ria di dunia seks, menikmati sensasi sesuka hati, bebas, tanpa kendali apapun. Oooh, hooo, enaknya, serba bebas, puas." Begitulah jalan pikiran mereka. Tetapi yakinlah saudaraku, hakikat nikmat seks itu sepenuh ada di Tangan Allah. Dia akan memberikan sensasi nikmat tertinggi kepada siapa yang paling baik caranya dalam mengambil nikmat itu. Lihatlah kaum hedonis itu, apa yang mereka dapatkan setelah berliar-liar ria dengan segala sensasi seks-nya? Mereka hanya mendapatkan kecewa, penyesalan, dan sakit hati tak berkesudahan, sampai akhir hayatnya. Kasihan benar ]].
(01) Kehidupan memiliki makna berbeda bagi setiap manusia. Bagi seorang Muslim, kehidupan laksana perjalanan panjang untuk semakin memahami Kemurahan Rabb-nya, Allah Azza Wa ‘Ala.

[[ Catatan: Setiap kita telah diberi jatah usia dan rizki, untuk menjalani hidup ini. Allah Ta'ala telah menunjukkan jalan yang lurus yang mesti kita lewati; sedangkan syaitan dan hawa nafsu justru menunjukkan jalur lain yang sesat dari jalan yang lurus. Para penempuh jalan Allah yang istiqamah sampai akhir hayatnya, semoga kita mendapatkan karunia ini -amin ya Karim-, mereka bukan saja akan selamat. Tetapi di titik final itu dia akan jauh lebih memahami Sifat Kemurahan Rabb-nya, lalu bersyukur kepada-Nya. Nah, itulah titik final yang kita harapkan. Allahumma amin ]].

Penulis : Abu Muhammad Waskito - abisyakir.wordpress.com

Wasiat Qasim bin ‘Ashim buat putranya

Sudah menjadi suatu kebiasaan pada zaman sekarang adalah ketika kita meninggalkan anak-anak kita (yang sudah memilikinya tentunya) atau saudara yang kita sangat menyayanginya, yang pertama kali kita takuti adalah kelaparan mereka, "bagaimana nanti kalau anak-anaknya tidak punya duit, tidak punya rumah, tidak punya ini dan tidak punya itu, sedangkan masalah agamanya tidak dipikirkan atau dipikirkan kemudian atau nomer ke sekian, Ironinya lagi, hal tersebut terjadi di kalangan kaum muslimin itu sendiri, Marilah kita Menyimak pesan seorang Ulama besar kita, Qasim Ibn "Asim r.a. terhadap putranya sendiri.
Beliau radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Bertakwalah kalian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan jadikanlah orang tertua di antara kalian sebagai pemimpin. Sungguh apabila suatu kaum mengangkat orang tertua mereka sebagai pemimpin niscaya pemimpin tersebut akan menggantikan peran orang tua mereka dalam memberikan/melakukan yang terbaik bagi mereka. Jikalau orang termudanya yang dijadikan sebagai pemimpin yang ditaati tentu akan menyebabkan berkurangnya penghormatan terhadap orang-orang tuanya, berakibat pada pembodohan mereka, peremehan, serta sikap tidak merasa butuh terhadap orang-orang tua tersebut.Hendaklah kalian memiliki harta dan mengembangkannya melalui pekerjaan/usaha yang baik, karena hal itu akan menjadikan kalian memiliki kemuliaan serta kedudukan yang tinggi serta mencukupkan kalian dari meminta-minta. Hati-hatilah kalian, jangan sampai mengemis-ngemis kepada manusia, karena hal itu merupakan batasan terakhir dari usaha seseorang. Jika aku mati, janganlah kalian melakukan niyahah (meratap), sebab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah diniyahahi. Jika aku mati, kuburkanlah di tanah yang tidak diketahui oleh Bani Bakr bin Wail, karena di masa jahiliah dulu, aku pernah menyerang mereka secara tiba-tiba pada saat mereka lengah.”

(Syarah Shahih Al-Adabul Mufrad hal. 475)

Sumber bacaan : Majalah AsySyariah

Gratis Download E-Book 'Ulama Ahlussunnah

Membaca merupakan "jendela melihat dunia dan jendela melihat akhirat", tanpa membaca manusia tidak akan mampu memahami bagaimana ia diciptakan, sehingga ia pun terjatuh ke lembah kebodohan dan terseret ke palung kehinaan yang terdalam. Oleh karenanya Islam sangat menganjurkan setiap muslim untuk membudayakan kebiasaan membaca, sebagaimana difirmankan oleh Ar Rahman dalam ayat Al Quran pertama kali diturunkan, yakni Iqra'. Oleh sebab itu sebagai salah satu sarana untuk mencapai hal tersebut saya berharap kepada segenap anda untuk bersegera menjadikan hidup anda bergelora dengan semangat membaca, Semoga Allah memasukkan kita ke dalam Rahmat Nya dan Jannah Nya Amiin . Berikut ini adalah buku buku karangan Ulama Ahlusunnah yang sudah di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tentang masalah masalah Kontemporer, yang mayoritas Muslim belum memahami solusi terbaik penyelesaiannya, semoga bermanfaat bagi yang ingin mengambil pelajaran. Dan tunggu apalagi... buruan Download dan membacanya...


PDF Format :

CHM Format :


Jilbab tidak hanya sebatas simbol

Siapa sih yang nggak tahu jilbab itu apa? Yupz…jilbab adalah baju takwa seorang muslimah. Meski banyak salah kaprah dalam memahami definisi jilbab tapi kita semua sepakat bahwa aurat muslimah itu semua bagian tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan. Dan itu, kudu ditutup biar yang tidak berkepentingan nggak bisa lihat.Seiring dengan gencarnya dakwah Islam di tengah masyarakat, Alhamdulillah banyak muslimah yang sadar untuk menutup aurat. Di satu pihak, hal ini kudu kita syukuri. Tapi di pihak lain, ternyata jilbab marak itu hanya sekedar trend. Parahnya, ada juga pihak yang menjadikan jilbab ini hanya sebatas simbol berupa secarik kain penutup kepala. Bahkan akhir-akhir ini banyak pro dan kontra tentang jilbab yang katanya sebagai komoditi politik golongan tertentu.
Hmm…ternyata jilbab membawa bahasan yang tak kalah serunya untuk diobrolin. Biar anti manyun, ikuti terus yuk topik tentang jilbab ini di buletin gaulislam kita.

Perpisahan dengan dunia maya

Bismillahirrahmanirrahim . . .
Mungkin sahabat sekalian heran melihat judul postingan Rifyal kali ini sekaligus postingan terakhir Rifyal di sini, yeah . . Perpisahan Rifyal dengan dunia Internet, yang membuat sahabat mungkin bertanya tanya, ” Ada apa gerangan dengan dirimu wahai Rifyal ?

Mmmm . . . Sebelumnya saya ingin bercerita sedikit tentang awal mula saya bisa membuat blog (nge-blog, bahasa kerennya), Sekitar 7 bulan yang lalu salah satu perusahaan telekomunikasi di kota saya – Telkom Speedy Banda Aceh - mengadakan lomba membuat blog antar sekolah yang dulunya blog pertama saya beralamat di m-rifyal.blogspot.com. Dan saya ucapkan terima kasih kepada Ibu Evi, Guru IT saya semasa dulu di SMAN 2 Banda Aceh yang sudah memberi kesempatam untuk mengikuti lomba tersebut, eitz . . tapi blog tersebut sekarang sudah saya hapus karena saya tidak tahu harus dikemanain, hehehe . . . Sejak itulah saya mulai rajin ke warnet sampai- sampai komputer di Masjid ( Masjid Al Abrar Lamdingin – Pent ) saya gunakan untuk koneksi internet melalui jaringan Modem HSPDA. Nah begitulah awal saya mengenal yang namanya blog, Lumayan cepat, karena saya belajar secara otodidak. Oya, Back to my last pots title, sebenarnya sungguh berat sekali bagi Rifyal untuk meninggalkan ”kemesraan” dengan blog kesayangan ini, apalagi sudah 6 bulan Rifyal menulis di sini. Namun begitulah Rifyal yang sebenarnya, Rifyal adalah orang yang senantiasa begelut dan senang dengan perubahan. ”Perubahan seperti apa ya Rifyal ?” . . .


***


1 tahun yang lalu (Kelas 2 SMA) saya sebenarnya uda mulai ”ngomel” dengan orang tua saya untuk belajar di pondokTahfidz sehabis SMA ini, namun baru seminggu yang lalu keputusannya ’had finished’ . Alhamdulillah . . . Pondoknya sudah dapet ( Emank Hilang apa ? nih), yakni Ma’hadnya Al Ustadz Luqman Ba’abduh di Jember Jatim.
Oya sesuai janji saya yang Kemarin (pada posting ke-100) untuk menulis puisi buat sahabat sekelas saya di SMAN2 Banda Aceh, maka berikut puisi nya (Jangan menangis ya !):






Berburu Cahaya di Antara Cakar Cinta
Juga cinta yang 3 tahun berhasil terpendam
Ketika aku lengah
Kalian ingatkan untuk tidak alpa dalam segala pertempuran
Saat batin terguncang
Kalian buat aku terhibur di atas cinta
Atas indahnya bersama kekasih
Kalian, kalian dan kalian lah harapanku
Dan aku lah harapan kalian
Dimana nanti kita tak mengerti
Apakah Dia suakan kembali
Atau kita tak pernah bertatap lagi ?
Kalian adalah masa depan bagiku
Dan aku juga akan menjadi masa depan bagi kalian
Di sanalah (Masa depan) kita berjanji . . .
Untuk selalu patuh pada Allah Taat akan RasulNya . . .
Untuk membahagiakan orang tua tercinta tercinta
(Bukan kedurhakaan yang kelak kalian banggakan pada mereka)
Untuk melindungi orang yang lemah
(Bukan mengurasnya ketika kalian menjadi Orang besar)
Untuk mengasihi mereka yang dibenci
Untuk memberi bagi mereka yang menerima
Karena Allah, Hanya Karena Allah, Hanya karena Allah . . .
Sahabat yang mendewasakanku !
Masihkah kalian ingat ketika kita dulu bergurau, menangis dan tertawa
Tersenyum saja dan terkadang cuek tanpa kata ?
Ya, semua itu adalah kenangan kita, tak kan pernah terulang lagi . . .
Tak kan . . .
Maka penuhilah janji-janji kita kepada siapa kita pernah berjanji . . .
Bahagiakanlah orang-orang yang mencintai kita
Karena Allah, Hanya Karena Allah, Hanya karena Allah . . .
Terima kasih sahabat D’ghapa Thoo,
Aku mencintai kalian . . .
dan . . . .
Berikut ini Sepercik Kenangan Di Sekolah Tercinta kita ( SMAN 2 banda Aceh) :


Sekolah ku dari sudut timur
Dari arah barat
dari timur lantai bawah

kereta Mister Boy tuh !!! hihihi
Foto ini diambil waktu becanda sama geng SPV
Ini dia All Member D'ghapa Thoo ( Anak 3IPA1 maksudnya ) Coba tebak yang mana saya !
Nah, yang ini dari atas (from my class). . .
Berani ya Bapak tuh!!! ga takut di sorak ya !hihihi
Akhirnya saya ingin mengucapkan kepada semua sahabat blogger maupun pengunjung setia blog ini serta sahabat D'Ghapa Thoo permohonan maaf seandainya, Rifyal memuat kata kata yang kurang berkenan pada blog ini di hati kawan sekalian. Karena Rifyal tidak tahu apakah bisa kembali membuat blog/blogging atau tidak, sehingga kita tidak berjumpa lagi meski di dunia "maya", karena masa "kontrak" Rifyal untuk belajar Al Quran, 2 tahun sampai 7 tahun. Doakan Rifyal ya semoga sukses kelak di "sana". Amiin.


Mmm . . . Plussss . . .

Yesss, Dolphin . . .( ada yang tahu maksudnya ?)
Silakan memberi tahu saya pada kolom komentar di bawah ini atau ke rifyal@rifyal.co.cc !


Assalamualaikum . . .



Pengumuman : saya akhirnya mengikuti saran dari sahabat pemilik meruno.net : ngeblog sambil mondok keren juga ya ? hahaha . . . oya alamatnya rifael.blogspot.com, saya tunggu kedatangan anda !!!

Jagalah Lisanmu !

Nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang terlimpah kepada kita tiada terbilang hingga kita tidak mampu menghitungnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللهِ لَا تُحْصُوهَا

“Dan jika kalian ingin menghitung nikmat Allah niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya.” (Ibrahim: 34)
Dia Yang Maha Suci juga berfirman:

وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً

“Dan Dia telah mencurahkan nikmat-Nya yang lahir dan yang batin kepada kalian.” (Luqman: 20) Di antara sekian banyak nikmat-Nya adalah lisan atau lidah yang dengannya seorang hamba dapat mengungkapkan keinginan jiwanya.
أَلَمْ نَجْعَلْ لَهُ عَيْنَيْنِ. وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ

“Bukankah Kami telah menjadikan untuknya dua mata, lisan, dan dua bibir?” (Al-Balad: 8-9)
Dengan lisan ini, seorang hamba dapat terangkat derajatnya dengan beroleh kebaikan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaliknya, ia juga dapat tersungkur ke jurang jahannam dengan sebab lisannya. Rasul yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللهِ لاَ يُلْقِي لَهَا بَالاً يَرْفَعُهُ اللهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ لاَ يُلْقِي لَهَا بَالاً يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kata yang Allah ridhai dalam keadaan tidak terpikirkan oleh benaknya, tidak terbayang akibatnya, dan tidak menyangka kata tersebut berakibat sesuatu, ternyata dengan kata tersebut Allah mengangkatnya beberapa derajat. Dan sungguh seorang hamba mengucapkan suatu kata yang Allah murkai dalam keadaan tidak terpikirkan oleh benaknya, tidak terbayang akibatnya, dan tidak menyangka kata tersebut berakibat sesuatu ternyata karenanya Allah melemparkannya ke dalam neraka Jahannam.” (HR. Al-Bukhari no. 6478)
Dalam hadits yang lain disebutkan:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيْهَا، يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ

“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kata yang ia tidak memerhatikannya, tidak memikirkan kejelekannya dan tidak khawatir akan akibat/dampaknya, ternyata karenanya ia dilemparkan ke dalam neraka lebih jauh dari apa-apa yang ada di antara masyriq/timur.” (HR. Al-Bukhari no. 6477 dan Muslim no. 7406, 7407)
Dalam riwayat Muslim:

أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

“…lebih jauh daripada antara timur dan barat.”
Yang disesalkan dari keberadaan kita, kaum hawa, sering menyalahgunakan nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berupa lisan ini. Lisan dilepaskan begitu saja tanpa penjagaan sehingga keluar darinya kalimat-kalimat yang membinasakan pengucapnya. Ghibah, namimah, dusta, mengumpat, mencela dan teman-temannya, biasa terucap.
Terasa ringan tanpa beban, seakan tiada balasan yang akan diperoleh. Membicarakan cacat/cela seseorang, menjatuhkan kehormatan seorang muslim, seakan jadi santapan lezat bagi yang namanya lisan. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan dalam sabdanya:

الْـمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْـمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Al-Bukhari no. 6484 dan Muslim no. 161)

Kisah Seguci Emas

Sangat indah rasanya bila hati telahdihiasi oleh iman dan ketaqwaan, namun godaan tentunya tidak pernah berhenti untuk menjatuhkankita kedalam perbuatan sia-sia, Semoga kisah berikut akan membuat hati kita kembali dipenuhi manisnya iman, karena mengandung Ibrah yang cukup sempurna.



Sebuah kisah yang terjadi di masa lampau, sebelum Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan. Kisah yang menggambarkan kepada kita pengertian amanah, kezuhudan, dan kejujuran serta wara’ yang sudah sangat langka ditemukan dalam kehidupan manusia di abad ini.


Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


اشْتَرَى رَجُلٌ مِنْ رَجُلٍ عَقَارًا لَهُ فَوَجَدَ الرَّجُلُ الَّذِي اشْتَرَى الْعَقَارَ فِي عَقَارِهِ جَرَّةً فِيهَا ذَهَبٌ فَقَالَ لَهُ الَّذِي اشْتَرَى الْعَقَارَ: خُذْ ذَهَبَكَ مِنِّي إِنَّمَا اشْتَرَيْتُ مِنْكَ الْأَرْضَ وَلَمْ أَبْتَعْ مِنْكَ الذَّهَبَ. وَقَالَ الَّذِي لَهُ الْأَرْضُ: إِنَّمَا بِعْتُكَ الْأَرْضَ وَمَا فِيهَا. فَتَحَاكَمَا إِلَى رَجُلٍ فَقَالَ الَّذِي تَحَاكَمَا إِلَيْهِ: أَلَكُمَا وَلَدٌ؟ قَالَ أَحَدُهُمَا: لِي غُلَامٌ. وَقَالَ الآخَرُ: لِي جَارِيَةٌ. قَالَ: أَنْكِحُوا الْغُلَامَ الْجَارِيَةَ وَأَنْفِقُوا عَلَى أَنْفُسِهِمَا مِنْهُ وَتَصَدَّقَا


Ada seorang laki-laki membeli sebidang tanah dari seseorang. Ternyata di dalam tanahnya itu terdapat seguci emas. Lalu berkatalah orang yang membeli tanah itu kepadanya: “Ambillah emasmu, sebetulnya aku hanya membeli tanah darimu, bukan membeli emas.”
Si pemilik tanah berkata kepadanya: “Bahwasanya saya menjual tanah kepadamu berikut isinya.”
Akhirnya, keduanya menemui seseorang untuk menjadi hakim. Kemudian berkatalah orang yang diangkat sebagai hakim itu: “Apakah kamu berdua mempunyai anak?”
Salah satu dari mereka berkata: “Saya punya seorang anak laki-laki.”
Yang lain berkata: “Saya punya seorang anak perempuan.”
Kata sang hakim: “Nikahkanlah mereka berdua dan berilah mereka belanja dari harta ini serta bersedekahlah kalian berdua.”
Sungguh, betapa indah apa yang dikisahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. Di zaman yang kehidupan serba dinilai dengan materi dan keduniaan. Bahkan hubungan persaudaraan pun dibina di atas kebendaan. Wallahul musta’an.
Dalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisahkan, transaksi yang mereka lakukan berkaitan sebidang tanah. Si penjual merasa yakin bahwa isi tanah itu sudah termasuk dalam transaksi mereka. Sementara si pembeli berkeyakinan sebaliknya; isinya tidak termasuk dalam akad jual beli tersebut.
Kedua lelaki ini tetap bertahan, lebih memilih sikap wara’, tidak mau mengambil dan membelanjakan harta itu, karena adanya kesamaran, apakah halal baginya ataukah haram?
Mereka juga tidak saling berlomba mendapatkan harta itu, bahkan menghindarinya. Simaklah apa yang dikatakan si pembeli tanah: “Ambillah emasmu, sebetulnya aku hanya membeli tanah darimu, bukan membeli emas.”
Barangkali kalau kita yang mengalami, masing-masing akan berusaha cari pembenaran, bukti untuk menunjukkan dirinya lebih berhak terhadap emas tersebut. Tetapi bukan itu yang ingin kita sampaikan melalui kisah ini.
Hadits ini menerangkan ketinggian sikap amanah mereka dan tidak adanya keinginan mereka mengaku-aku sesuatu yang bukan haknya. Juga sikap jujur serta wara’ mereka terhadap dunia, tidak berambisi untuk mengangkangi hak yang belum jelas siapa pemiliknya. Kemudian muamalah mereka yang baik, bukan hanya akhirnya menimbulkan kasih sayang sesama mereka, tetapi menumbuhkan ikatan baru berupa perbesanan, dengan disatukannya mereka melalui perkawinan putra putri mereka. Bahkan, harta tersebut tidak pula keluar dari keluarga besar mereka. Allahu Akbar.
Bandingkan dengan keadaan sebagian kita di zaman ini, sampai terucap dari mereka: “Mencari yang haram saja sulit, apalagi yang halal?” Subhanallah.
Kemudian, mari perhatikan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma:


وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ



“Siapa yang terjatuh ke dalam syubhat (perkara yang samar) berarti dia jatuh ke dalam perkara yang haram.”


Sementara kebanyakan kita, menganggap ringan perkara syubhat ini. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, bahwa siapa yang jatuh ke dalam perkara yang samar itu, bisa jadi dia jatuh ke dalam perkara yang haram. Orang yang jatuh dalam hal-hal yang meragukan, berani dan tidak memedulikannya, hampir-hampir dia mendekati dan berani pula terhadap perkara yang diharamkan lalu jatuh ke dalamnya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah menjelaskan pula dalam sabdanya yang lain:


دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ



“Tinggalkan apa yang meragukanmu, kepada apa yang tidak meragukanmu.”
Yakni tinggalkanlah apa yang engkau ragu tentangnya, kepada sesuatu yang meyakinkanmu dan kamu tahu bahwa itu tidak mengandung kesamaran.
Sedangkan harta yang haram hanya akan menghilangkan berkah, mengundang kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, menghalangi terkabulnya doa dan membawa seseorang menuju neraka jahannam.
Tidak, ini bukan dongeng pengantar tidur.
Inilah kisah nyata yang diceritakan oleh Ash-Shadiqul Mashduq (yang benar lagi dibenarkan) Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:


وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى. إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى



“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm: 3-4)
Kedua lelaki itu menjauh dari harta tersebut sampai akhirnya mereka datang kepada seseorang untuk menjadi hakim yang memutuskan perkara mereka berdua. Menurut sebagian ulama, zhahirnya lelaki itu bukanlah hakim, tapi mereka berdua memintanya memutuskan persoalan di antara mereka.
Dengan keshalihan kedua lelaki tersebut, keduanya lalu pergi menemui seorang yang berilmu di antara ulama mereka agar memutuskan perkara yang sedang mereka hadapi. Adapun argumentasi si penjual, bahwa dia menjual tanah dan apa yang ada di dalamnya, sehingga emas itu bukan miliknya. Sementara si pembeli beralasan, bahwa dia hanya membeli tanah, bukan emas.
Akan tetapi, rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala membuat mereka berdua merasa tidak butuh kepada harta yang meragukan tersebut.
Kemudian, datanglah keputusan yang membuat lega semua pihak, yaitu pernikahan anak laki-laki salah seorang dari mereka dengan anak perempuan pihak lainnya, memberi belanja keluarga baru itu dengan harta temuan tersebut, sehingga menguatkan persaudaraan imaniah di antara dua keluarga yang shalih ini.
Perhatikan pula kejujuran dan sikap wara’ sang hakim. Dia putuskan persoalan keduanya tanpa merugikan pihak yang lain dan tidak mengambil keuntungan apapun. Seandainya hakimnya tidak jujur atau tamak, tentu akan mengupayakan keputusan yang menyebabkan harta itu lepas dari tangan mereka dan jatuh ke tangannya.


Pelajaran yang kita ambil dari kisah ini adalah sekelumit tentang sikap amanah dan kejujuran serta wara’ yang sudah langka di zaman kita.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam Syarah Riyadhis Shalihin mengatakan:
Adapun hukum masalah ini, maka para ulama berpendapat apabila seseorang menjual tanahnya kepada orang lain, lalu si pembeli menemukan sesuatu yang terpendam dalam tanah tersebut, baik emas atau yang lainnya, maka harta terpendam itu tidak menjadi milik pembeli dengan kepemilikannya terhadap tanah yang dibelinya, tapi milik si penjual. Kalau si penjual membelinya dari yang lain pula, maka harta itu milik orang pertama. Karena harta yang terpendam itu bukan bagian dari tanah tersebut.
Berbeda dengan barang tambang atau galian. Misalnya dia membeli tanah, lalu di dalamnya terdapat barang tambang atau galian, seperti emas, perak, atau besi (tembaga, timah dan sebagainya). Maka benda-benda ini, mengikuti tanah tersebut.
Kisah lain, yang mirip dengan ini, terjadi di umat ini. Kisah ini sangat masyhur, wallahu a’lam.
Beberapa abad lalu, di masa-masa akhir tabi’in. Di sebuah jalan, di salah satu pinggiran kota Kufah, berjalanlah seorang pemuda. Tiba-tiba dia melihat sebutir apel jatuh dari tangkainya, keluar dari sebidang kebun yang luas. Pemuda itu pun menjulurkan tangannya memungut apel yang nampak segar itu. Dengan tenang, dia memakannya.
Pemuda itu adalah Tsabit. Baru separuh yang digigitnya, kemudian ditelannya, tersentaklah dia. Apel itu bukan miliknya! Bagaimana mungkin dia memakan sesuatu yang bukan miliknya?


Akhirnya pemuda itu menahan separuh sisa apel itu dan pergi mencari penjaga kebun tersebut. Setelah bertemu, dia berkata: “Wahai hamba Allah, saya sudah menghabiskan separuh apel ini. Apakah engkau mau memaafkan saya?”
Penjaga itu menjawab: “Bagaimana saya bisa memaafkanmu, sementara saya bukan pemiliknya. Yang berhak memaafkanmu adalah pemilik kebun apel ini.”
“Di mana pemiliknya?” tanya Tsabit.
“Rumahnya jauh sekitar lima mil dari sini,” kata si penjaga.
Maka berangkatlah pemuda itu menemui pemilik kebun untuk meminta kerelaannya karena dia telah memakan apel milik tuan kebun tersebut.
Akhirnya pemuda itu tiba di depan pintu pemilik kebun. Setelah mengucapkan salam dan dijawab, Tsabit berkata dalam keadaan gelisah dan ketakutan: “Wahai hamba Allah, tahukah anda mengapa saya datang ke sini?”
“Tidak,” kata pemilik kebun.
“Saya datang untuk minta kerelaan anda terhadap separuh apel milik anda yang saya temukan dan saya makan. Inilah yang setengah lagi.”
“Saya tidak akan memaafkanmu, demi Allah. Kecuali kalau engkau menerima syaratku,” katanya.
Tsabit bertanya: “Apa syaratnya, wahai hamba Allah?”
Kata pemilik kebun itu: “Kamu harus menikahi putriku.”
Si pemuda tercengang seraya berkata: “Apa betul ini termasuk syarat? Anda memaafkan saya dan saya menikahi putri anda? Ini anugerah yang besar.”
Pemilik kebun itu melanjutkan: “Kalau kau terima, maka kamu saya maafkan.”
Akhirnya pemuda itu berkata: “Baiklah, saya terima.”
Si pemilik kebun berkata pula: “Supaya saya tidak dianggap menipumu, saya katakan bahwa putriku itu buta, tuli, bisu dan lumpuh tidak mampu berdiri.”


Pemuda itu sekali lagi terperanjat. Namun, apa boleh buat, separuh apel yang ditelannya, kemana akan dia cari gantinya kalau pemiliknya meminta ganti rugi atau menuntut di hadapan Hakim Yang Maha Adil?
“Kalau kau mau, datanglah sesudah ‘Isya agar bisa kau temui istrimu,” kata pemilik kebun tersebut.
Pemuda itu seolah-olah didorong ke tengah kancah pertempuran yang sengit. Dengan berat dia melangkah memasuki kamar istrinya dan memberi salam.
Sekali lagi pemuda itu kaget luar biasa. Tiba-tiba dia mendengar suara merdu yang menjawab salamnya. Seorang wanita berdiri menjabat tangannya. Pemuda itu masih heran kebingungan, kata mertuanya, putrinya adalah gadis buta, tuli, bisu dan lumpuh. Tetapi gadis ini? Siapa gerangan dia?
Akhirnya dia bertanya siapa gadis itu dan mengapa ayahnya mengatakan begitu rupa tentang putrinya.
Istrinya itu balik bertanya: “Apa yang dikatakan ayahku?”
Kata pemuda itu: “Ayahmu mengatakan kamu buta.”
“Demi Allah, dia tidak dusta. Sungguh, saya tidak pernah melihat kepada sesuatu yang dimurkai Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
“Ayahmu mengatakan kamu bisu,” kata pemuda itu.
“Ayahku benar, demi Allah. Saya tidak pernah mengucapkan satu kalimat yang membuat Allah Subhanahu wa Ta’ala murka.”
“Dia katakan kamu tuli.”
“Ayah betul. Demi Allah, saya tidak pernah mendengar kecuali semua yang di dalamnya terdapat ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
“Dia katakan kamu lumpuh.”
“Ya. Karena saya tidak pernah melangkahkan kaki saya ini kecuali ke tempat yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Pemuda itu memandangi wajah istrinya, yang bagaikan purnama. Tak lama dari pernikahan tersebut, lahirlah seorang hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang shalih, yang memenuhi dunia dengan ilmu dan ketakwaannya. Bayi tersebut diberi nama Nu’man; Nu’man bin Tsabit Abu Hanifah rahimahullahu.
Duhai, sekiranya pemuda muslimin saat ini meniru pemuda Tsabit, ayahanda Al-Imam Abu Hanifah. Duhai, sekiranya para pemudinya seperti sang ibu, dalam ‘kebutaannya, kebisuan, ketulian, dan kelumpuhannya’.


Allahu Maha Besar!!!


Demikianlah cara pandang orang-orang shalih terhadap dunia ini.
Adakah yang mengambil pelajaran?
Wallahul Muwaffiq.

Statistik

Disqus for Assunnah